ADV DISKOMINFO BPP 2026 Balikpapan HEADLINE

Literasi Jadi Fondasi Pembentukan Karakter Generasi Muda Balikpapan



BALIKPAPAN – Penguatan budaya literasi dinilai menjadi salah satu kunci dalam membentuk karakter generasi muda yang kritis, berintegritas, dan memiliki daya saing. Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membaca saja tidak cukup. Masyarakat juga dituntut mampu memahami, memilah, dan menilai kebenaran informasi.

Karena itu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispustakar) Kota Balikpapan terus mendorong pengembangan budaya literasi di tengah masyarakat. Upaya tersebut dilakukan dengan memperluas pemahaman bahwa literasi bukan sekadar aktivitas membaca dan menulis, tetapi juga berkaitan dengan pembentukan pola pikir dan perilaku.

Kepala Dispustakar Kota Balikpapan, Neni Dwi Winahyu, mengatakan perpustakaan memiliki peran yang semakin luas dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Menurutnya, perpustakaan harus mampu menjadi ruang belajar yang mendorong masyarakat mengembangkan pengetahuan, berpikir kritis, sekaligus meningkatkan potensi diri.

“Perpustakaan bukan lagi sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang untuk membangun lingkungan yang mendorong masyarakat agar terus belajar, berpikir kritis, dan mengembangkan potensi diri secara berkelanjutan,” ujar Neni, Jumat (30/10/2026).

Ia menjelaskan, kebiasaan membaca sejak dini dapat membantu generasi muda memperluas wawasan serta memahami beragam pengalaman dan sudut pandang. Selain meningkatkan pengetahuan, membaca juga dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, kepedulian sosial, dan sikap menghargai perbedaan.

Namun, tantangan literasi saat ini semakin kompleks seiring perkembangan teknologi digital. Masyarakat dihadapkan pada arus informasi yang begitu cepat, termasuk maraknya disinformasi dan berita bohong.

“Literasi hari ini tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis saja. Lebih dari itu, literasi adalah kecakapan dalam memahami informasi, menilai kebenarannya, serta menggunakan pengetahuan tersebut secara tepat dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

Neni menilai, kemampuan berpikir kritis perlu berjalan beriringan dengan kebiasaan membaca agar masyarakat tidak mudah menerima informasi tanpa melakukan verifikasi.

Selain peran perpustakaan, penguatan budaya literasi juga membutuhkan keterlibatan keluarga, sekolah, komunitas, dan lingkungan masyarakat. Keluarga menjadi tempat pertama untuk mengenalkan kebiasaan membaca kepada anak, sedangkan sekolah dan perpustakaan berperan memperluas akses terhadap sumber pengetahuan.

“Penguatan literasi ini butuh gotong royong. Keluarga adalah tempat pertama mengenalkan buku, sementara sekolah, perpustakaan, komunitas, dan lingkungan sekitar berperan memperluas aksesnya,” tuturnya.

Ia menambahkan, keberhasilan pembangunan literasi tidak cukup diukur dari jumlah koleksi buku maupun tingkat kunjungan perpustakaan. Lebih penting, bagaimana pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan membentuk sikap positif.

Dengan demikian, penguatan literasi diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga melahirkan generasi muda yang memiliki karakter kuat dan mampu menghadapi tantangan perkembangan zaman.

(adv/diskominfo balikpapan)