ADV PEMKAB KUKAR Kutai Kartanegara

Karet dan Sawit Jadi Tulang Punggung Ekonomi Desa Margahayu

CAPTION: Petani Desa Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, mulai menikmati hasil panen karet dan sawit yang menjadi sumber penghidupan utama masyarakat.

TENGGARONG – Setelah lebih dari satu dekade menanam harapan di tanahnya sendiri, kini para petani di Desa Margahayu, Kecamatan Loa Kulu, Kutai Kartanegara mulai merasakan hasil nyata dari kebun karet dan sawit.

Dua komoditas unggulan ini menjadi motor utama penggerak ekonomi desa sekaligus simbol perubahan wajah Margahayu menuju desa produktif dan mandiri.

Kepala Desa Margahayu, Rusdi, mengatakan bahwa keberhasilan ini bermula dari program bantuan bibit karet yang disalurkan pemerintah sekitar sepuluh tahun lalu.

Kini, bibit-bibit tersebut telah tumbuh menjadi sumber penghidupan baru bagi warga.

“Alhamdulillah, bantuan bibit dulu sekarang sudah membuahkan hasil. Warga bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya, Selasa (9/9/2025).

Dari sekitar 1.200 Kepala Keluarga (KK) di Margahayu, sebanyak 35 persen kini hidup dari hasil kebun karet dan sawit.

Sementara sisanya masih menggantungkan penghasilan dari pertanian padi dan sektor usaha kecil lainnya.

Rusdi menuturkan, perekonomian desa semakin berkembang sejak hadirnya BUMDes Mandiri Sejahtera.

Lembaga ini berperan sebagai penghubung antara petani dan pabrik pengolahan, sekaligus membantu pemasaran hasil panen agar harga tetap stabil.

“Kami ingin petani fokus produksi. Urusan distribusi biar BUMDes yang urus, supaya lebih efisien,” tegasnya.

Selain karet, sektor sawit kini mulai menunjukkan potensi besar. Sekitar 10 persen lahan desa telah beralih menjadi perkebunan sawit yang banyak dikelola generasi muda.

Kedekatan dengan pabrik pengolahan PT Niaga Emas membuat warga semakin optimistis terhadap prospek sawit sebagai sumber ekonomi masa depan.

“Anak-anak muda sekarang melihat sawit sebagai peluang besar. Pasarnya jelas, pabriknya dekat,” tambah Rusdi.

Kini, Desa Margahayu telah memiliki 20 kelompok tani aktif dengan legalitas resmi, yang menjadi tulang punggung produksi karet dan sawit di wilayah tersebut.

Meski begitu, tantangan tetap ada, terutama soal biaya distribusi hasil karet yang masih cukup tinggi akibat jarak dan keterbatasan sarana angkut.

Untuk mengatasi hal itu, pemerintah desa tengah menyiapkan program pelatihan pengolahan hasil perkebunan, seperti pembuatan bahan olahan karet dan minyak sawit skala rumah tangga.

Tujuannya agar produk lokal memiliki nilai tambah dan tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah.

Menurut Rusdi, keberhasilan ini tidak hanya diukur dari besarnya hasil panen, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

Desa yang dulu identik dengan pertanian tradisional kini telah bertransformasi menjadi pusat ekonomi berbasis perkebunan rakyat.

Ia optimistis, dengan semangat gotong royong, dukungan pemerintah, serta peran aktif BUMDes, Margahayu akan tumbuh menjadi desa sejahtera berbasis potensi lokal.

“Yang kami perjuangkan adalah bagaimana petani bisa menikmati hasilnya secara adil dan berkelanjutan,” pungkasnya. (*)