
Balikpapan — Dinas Kesehatan Balikpapan melaporkan lonjakan kasus campak hingga Maret 2026, dengan jumlah kasus yang tercatat lebih dari 200 dan menyebar di seluruh kelurahan di Kota Balikpapan.
Kepala DKK Balikpapan, Alwiati, menjelaskan bahwa pola kasus kali ini berbeda dari biasanya. Jika sebelumnya penyakit ini lebih banyak menyerang anak-anak, saat ini sebagian besar penderita justru berasal dari kelompok usia dewasa. Hal ini diduga karena masih ada masyarakat yang belum mendapatkan imunisasi campak lengkap sejak kecil, sehingga kekebalan tubuh terhadap virus belum terbentuk.
“Kalau sudah pernah imunisasi biasanya tidak terlalu parah karena sudah ada kekebalan tubuh,” ujar Alwiati, Rabu (11/3/2026).
Ia menambahkan, orang yang belum divaksin berisiko mengalami gejala lebih berat dan komplikasi serius, seperti sesak napas hingga pneumonia.
Meski jumlah kasus cukup tinggi, Balikpapan belum masuk kategori daerah endemik campak yang diwajibkan menjalankan program Outbreak Response Immunization (ORI). Namun, DKK tetap meningkatkan cakupan imunisasi sebagai langkah pencegahan dengan mendorong masyarakat melengkapi vaksinasi melalui fasilitas kesehatan maupun program pemerintah.
“Tetapi kita bukan daerah endemik yang diminta ORI oleh Kemenkes. Namun kita tetap mengejar imunisasi agar masyarakat tidak terjangkit,” jelas Alwiati.
Selain percepatan vaksinasi, DKK mengimbau masyarakat yang terinfeksi campak untuk melakukan isolasi mandiri hingga sembuh guna mencegah penularan kepada keluarga dan orang lain.
“Kalau sudah terjangkit harus segera isolasi mandiri sampai sembuh, seperti pada kasus cacar, agar tidak menularkan kepada anggota keluarga lain,” tegasnya.
Pemantauan kasus juga terus dilakukan melalui fasilitas kesehatan, dan pelayanan vaksinasi tetap disediakan bagi masyarakat yang membutuhkan. Pemerintah berharap kesadaran masyarakat untuk melengkapi imunisasi meningkat, sehingga penyebaran campak dapat ditekan dan tidak meluas di tengah masyarakat.
(*/Adv Diskominfo Balikpapan)




