Kekeringan Tekan Hasil Panen hingga 60 Persen, Pemkot Balikpapan Bangun 12 Sumur Bor

BALIKPAPAN – Kekeringan yang melanda sejumlah kawasan pertanian di Kota Balikpapan mulai berdampak serius terhadap produktivitas petani. Hasil produksi sayuran dilaporkan turun hingga 60 persen dibandingkan kondisi normal akibat terbatasnya ketersediaan air selama musim kemarau.
Situasi ini tidak hanya mengancam keberlangsungan tanaman, tetapi juga meningkatkan biaya operasional petani. Sebagian petani terpaksa membeli air dari luar untuk memenuhi kebutuhan penyiraman agar tanaman tetap bertahan.
Kondisi tersebut turut berpotensi mendorong kenaikan harga sayuran di pasaran karena petani harus menyesuaikan harga jual dengan meningkatnya biaya produksi dan menurunnya hasil panen.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian, dan Perikanan (DKP3) Kota Balikpapan, Sri Wahyuningsih, mengatakan ketersediaan air menjadi salah satu persoalan utama yang dihadapi petani ketika memasuki musim kemarau.
“Selama ini sebagian petani harus mengeluarkan biaya sendiri untuk membeli air. Sementara kebutuhan penyiraman tanaman tidak bisa dihentikan begitu saja,” ujarnya, Senin (2/11/2026).
Perempuan yang akrab disapa Yuyun itu menjelaskan, keterbatasan pasokan air berpengaruh langsung terhadap produktivitas pertanian. Penurunan hasil produksi bahkan mencapai sekitar 60 persen dari kondisi normal.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat petani menghadapi beban ganda. Selain kehilangan sebagian hasil panen, mereka juga harus mengeluarkan biaya tambahan untuk menjaga tanaman tetap produktif.
“Dampaknya petani akan menghitung dan menaikkan harga jual ke pasarnya. Sehingga harga sayur-mayur ikut naik di pasar dampak dari kekeringan,” jelasnya.
Sebagai langkah penanganan, Pemkot Balikpapan melalui DKP3 mulai membangun fasilitas sumur bor di 12 titik kawasan pertanian dan perikanan.
Pembangunan tersebut mencakup bantuan kepada 11 kelompok tani dan satu kelompok pembudidaya ikan. Setiap lokasi dilengkapi sumur bor dan tandon air yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air kelompok penerima.
Dari total 12 titik tersebut, sembilan berada di wilayah Balikpapan Timur dan dua titik di kawasan Karang Joang. Sementara satu titik lainnya berada di lokasi penerima bantuan yang belum dirinci lebih lanjut.
“Lokasinya memang di lahan pertanian. Pemkot memberi bantuan sumur bor beserta dengan tandonnya yang siap untuk dimanfaatkan oleh kelompok tani di wilayah sekitar tersebut,” kata Yuyun.
Ditargetkan Rampung November
Yuyun memastikan pembangunan seluruh fasilitas sumur bor saat ini sedang berjalan. Pemkot menargetkan pengerjaan dapat diselesaikan pada minggu ketiga November 2026.
“Semua sedang dikerjakan dengan deadline hingga minggu ketiga November,” ungkapnya.
Melalui pembangunan fasilitas tersebut, pemerintah berharap petani tidak lagi terlalu bergantung pada pembelian air dari luar kawasan pertanian.
Ketersediaan sumber air di sekitar lahan diharapkan dapat membantu menjaga keberlangsungan tanaman, mengurangi beban biaya penyiraman, sekaligus memulihkan produktivitas pertanian yang terdampak kekeringan.
Selain itu, upaya ini menjadi bagian dari langkah pemerintah daerah dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan lokal. Dengan biaya produksi yang lebih terkendali dan hasil panen yang terjaga, pasokan sayuran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Balikpapan diharapkan tetap stabil.
(ADV Diskominfo balikpapan)




