{"id":5577,"date":"2026-04-07T07:47:21","date_gmt":"2026-04-07T07:47:21","guid":{"rendered":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/2026\/04\/07\/bulog-dan-pemda-kalimantan-perkuat-infrastruktur-pangan-strategi-sistemik-tekan-harga-hingga-pelosok-terpencil\/"},"modified":"2026-04-07T07:47:21","modified_gmt":"2026-04-07T07:47:21","slug":"bulog-dan-pemda-kalimantan-perkuat-infrastruktur-pangan-strategi-sistemik-tekan-harga-hingga-pelosok-terpencil","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/2026\/04\/07\/bulog-dan-pemda-kalimantan-perkuat-infrastruktur-pangan-strategi-sistemik-tekan-harga-hingga-pelosok-terpencil\/","title":{"rendered":"Bulog dan Pemda Kalimantan Perkuat Infrastruktur Pangan: Strategi Sistemik Tekan Harga hingga Pelosok Terpencil"},"content":{"rendered":"\n<p><\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img decoding=\"async\" src=\"file:\/\/\/data\/user\/0\/org.wordpress.android\/cache\/img-20260407-wa00147219316511813716689.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-5048\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p>Balikpapan \u2013 Perum Bulog bersama pemerintah daerah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mempercepat pembangunan infrastruktur pangan terintegrasi. Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menekan volatilitas harga bahan pokok hingga ke daerah-daerah terpencil.<br><br>Direktur SDM dan Transformasi Perum Bulog, Prof. Sudarsono Hardjosoekarto, menyatakan, program ini bukan sekadar membangun gudang, melainkan mendesain ulang rantai pasok pangan yang lebih efisien, dari sentra produksi hingga konsumen akhir. <br><br>Terbaru, Bulog melakukan Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dan penyerahan bantuan lahan berupa hibah dari Kabupaten Malinau, Kutai Barat, Mahakam Ulu, dan Kutai Kartanegara, Senin (6\/4). Sementara beberapa daerah masih menunggu. Sementara Bontang yang lebih dulu m sudah memasuki tahap lanjutan menuju pembangunan fisik.<br><br>\u201cKami membangun ekosistem pangan berbasis wilayah. Pendekatan hulu-hilir ini diharapkan dapat menyerap produksi petani dengan harga yang wajar, sekaligus menjamin ketersediaan pasokan di wilayah konsumsi,\u201d ujarnya didampingi Pimpinan Wilayah Bulog Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, Musazdin Said.<br><br>Di daerah produsen, intervensi difokuskan pada penguatan sisi hulu. Fasilitas yang dibangun mencakup pengering (dryer), penggilingan padi, silo penyimpanan, hingga gudang beras. Untuk wilayah penghasil jagung, ditambahkan dryer dan silo khusus jagung.<br><br>Tujuannya jelas, mempercepat penyerapan hasil panen raya, mengurangi kehilangan pascapanen yang selama ini mencapai angka signifikan, serta memastikan petani mendapatkan harga sesuai ketetapan pemerintah. Dengan infrastruktur ini, gabah dan jagung tidak lagi menumpuk atau rusak, sehingga kualitas terjaga dan nilai ekonomi produksi lokal meningkat.<br><br>Untuk pembangunan di tiap daerah ada yang sama dan berbeda. Seperti yang diterapkan di wilayah non-produsen atau pelosok, seperti Mahakam Ulu (Mahulu). Di sini, prioritas adalah pembangunan gudang distribusi berjenjang, mulai dari gudang utama hingga tingkat kecamatan.<br><br>Urgensi langkah ini terlihat dari pengalaman sebelumnya. Harga beras di Mahulu sempat melonjak ekstrem hingga Rp1 juta per 25 kilogram, bahkan menyentuh Rp1,3 juta di beberapa titik, akibat gangguan distribusi dan biaya logistik yang tinggi di wilayah perbatasan.20<br><br>Dengan gudang-gudang strategis yang dibangun di atas lahan hibah Pemda, Bulog menargetkan pasokan beras dan bahan pangan pokok tetap stabil sepanjang tahun, sehingga fluktuasi harga dapat ditekan dan daya beli masyarakat terjaga.<br><br>Ia menambahkan, Pembangunan infrastruktur ini memerlukan lahan yang memadai. Gudang skala dasar membutuhkan sekitar 1,5 hektare, sementara fasilitas terintegrasi lengkap bisa mencapai 5 hektare. Luas lahan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing daerah. \u201cJadi memang pembangunan di atas lahan hibah ini berbeda-beda tergantung berapa luasan yang diberikan,\u201d bebernya.<br><br>Tak hanya gudang, nantinya juga dilengkapi kantor operasional, akses jalan, dan sarana logistik pendukung. Artinya, yang dibangun adalah ekosistem pangan lengkap, bukan sekadar bangunan penyimpanan.<br><br>Di Kota Bontang, progres sudah lebih maju karena, daerah ini yang pertama memberikan lahan hibah. Pemerintah daerah telah membangun akses jalan, perencanaan teknis dan pengolahan lahan rampung, serta sertifikasi lahan ditargetkan selesai dalam waktu dekat untuk mempercepat konstruksi. <br><br>Meski demikian, beberapa daerah masih menghadapi kendala interpretasi regulasi terkait kerja sama. Karena itu masih ada daerah yang belum terlibat. Ia berharap, dengan kejelasan peran Bulog dalam kerangka regulasi nasional, semakin banyak pemerintah daerah yang aktif terlibat.<br>Secara ekonomi, program ini membawa manfaat ganda: meningkatkan efisiensi distribusi, memangkas losses pascapanen, mendongkrak kesejahteraan petani di hulu, serta menjaga stabilitas harga dan inflasi pangan di hilir\u2014terutama di wilayah dengan tantangan logistik tinggi seperti Kalimantan.<br>Kolaborasi Bulog-Pemda ini menjadi fondasi baru ketahanan pangan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan infrastruktur yang lebih merata, Indonesia diharapkan semakin siap menghadapi gejolak pasokan dan harga pangan di masa mendatang.<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Balikpapan \u2013 Perum Bulog bersama pemerintah daerah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara mempercepat pembangunan infrastruktur pangan terintegrasi. Langkah ini menjadi bagian penting dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menekan volatilitas harga bahan pokok hingga ke daerah-daerah terpencil. Direktur&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5576,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false,"jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[4],"tags":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/IMG-20260407-WA0014.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5577"}],"collection":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5577"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5577\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5576"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5577"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5577"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5577"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}