{"id":3511,"date":"2025-06-10T23:37:00","date_gmt":"2025-06-10T23:37:00","guid":{"rendered":"https:\/\/rubriknusantara.com\/?p=3511"},"modified":"2025-08-26T23:40:36","modified_gmt":"2025-08-26T23:40:36","slug":"balikpapan-ubah-budaya-layanan-publik-demi-wujudkan-kota-layak-anak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/2025\/06\/10\/balikpapan-ubah-budaya-layanan-publik-demi-wujudkan-kota-layak-anak\/","title":{"rendered":"Balikpapan Ubah Budaya Layanan Publik Demi Wujudkan Kota Layak Anak"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"445\" src=\"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/WhatsApp-Image-2025-06-10-at-19.06.09-800x445-1.jpeg\" alt=\"\" class=\"wp-image-3512\" srcset=\"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/WhatsApp-Image-2025-06-10-at-19.06.09-800x445-1.jpeg 800w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/WhatsApp-Image-2025-06-10-at-19.06.09-800x445-1-300x167.jpeg 300w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/WhatsApp-Image-2025-06-10-at-19.06.09-800x445-1-768x427.jpeg 768w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><\/h3>\n\n\n\n<p><strong>Balikpapan<\/strong> \u2013 Pemerintah Kota Balikpapan tak lagi memandang program Kota Layak Anak (KLA) sebagai sekadar kewajiban administratif. Di bawah kepemimpinan Wakil Wali Kota Bagus Susetyo, perubahan besar tengah dilakukan: membentuk budaya baru dalam layanan publik yang berpihak pada anak.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cIni bukan soal mengejar skor nasional. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap anak merasakan langsung dampaknya,\u201d tegas Bagus, Selasa (10\/06).<\/p>\n\n\n\n<p>Transformasi ini dimulai dari dalam: seluruh <strong>Organisasi Perangkat Daerah (OPD)<\/strong> diminta menjadikan prinsip ramah anak sebagai bagian dari etika kerja dan kebijakan. Artinya, keputusan apa pun \u2014 dari pembangunan fisik hingga layanan kesehatan \u2014 harus mempertimbangkan kepentingan dan perlindungan anak.<\/p>\n\n\n\n<p>Langkah konkret terus digencarkan melalui <strong>penguatan lima klaster utama<\/strong>: pendidikan dasar, layanan kesehatan, tempat ibadah, taman kota, dan ruang terbuka hijau. Di masing-masing klaster, indikator khusus diterapkan agar keberpihakan terhadap anak bisa terukur dan berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak hanya mengandalkan program internal, Pemkot Balikpapan juga menggandeng <strong>sekolah, komunitas lokal, tokoh masyarakat, hingga dunia usaha<\/strong>. Sinergi ini diwujudkan dalam berbagai inisiatif, salah satunya program <strong>\u201cSatu Taman, Satu Kecamatan\u201d<\/strong> yang menghadirkan ruang bermain sekaligus pembelajaran sosial untuk anak-anak.<\/p>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote\">\n<p>\u201cKami ingin taman menjadi ruang belajar, bukan hanya bermain. Maka kami libatkan semua pihak agar fasilitas ini benar-benar hidup,\u201d ujar Bagus.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<p>Lebih jauh, tempat-tempat layanan seperti puskesmas dan tempat ibadah juga diarahkan menjadi zona ramah anak, dengan standar pelayanan yang sesuai kebutuhan anak-anak.<\/p>\n\n\n\n<p>Dengan menggandeng banyak pihak dan membangun komitmen lintas sektor, Pemkot Balikpapan menunjukkan bahwa membangun kota yang ramah anak bukan hanya soal kebijakan, tapi perubahan cara pandang. (ADV)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Balikpapan \u2013 Pemerintah Kota Balikpapan tak lagi memandang program Kota Layak Anak (KLA) sebagai sekadar kewajiban administratif. Di bawah kepemimpinan Wakil Wali Kota Bagus Susetyo, perubahan besar tengah dilakukan: membentuk budaya baru dalam layanan publik yang berpihak pada anak. \u201cIni&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3513,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false,"jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[4,40],"tags":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/08\/WhatsApp-Image-2025-06-10-at-19.06.09-800x445-2.jpeg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3511"}],"collection":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3511"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3511\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3514,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3511\/revisions\/3514"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3513"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3511"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3511"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3511"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}