{"id":2918,"date":"2025-05-07T03:46:09","date_gmt":"2025-05-07T03:46:09","guid":{"rendered":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/2025\/05\/07\/pelabuhan-penajam-disiapkan-jadi-ikon-wisata-baru-tapi-terkendala-anggaran\/"},"modified":"2025-05-07T03:46:09","modified_gmt":"2025-05-07T03:46:09","slug":"pelabuhan-penajam-disiapkan-jadi-ikon-wisata-baru-tapi-terkendala-anggaran","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/2025\/05\/07\/pelabuhan-penajam-disiapkan-jadi-ikon-wisata-baru-tapi-terkendala-anggaran\/","title":{"rendered":"Pelabuhan Penajam Disiapkan Jadi Ikon Wisata Baru, Tapi Terkendala Anggaran"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/img-20250507-wa00084197179939025491240-1024x768.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2916\" srcset=\"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/img-20250507-wa00084197179939025491240-1024x768.jpg 1024w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/img-20250507-wa00084197179939025491240-300x225.jpg 300w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/img-20250507-wa00084197179939025491240-768x576.jpg 768w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/img-20250507-wa00084197179939025491240.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><br><br>PPU &#8211; Impian menjadikan kawasan pelabuhan umum di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sebagai ikon baru yang memadukan nilai estetika dan fungsi wisata, hingga kini belum kunjung terwujud akibat keterbatasan anggaran pembangunan.<br><br>Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) PPU, Syahruddin M Noor mengungkapkan harapannya agar kawasan tersebut dapat dikembangkan menjadi ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat, sekaligus menjadi ciri khas daerah sebagaimana yang telah berhasil dilakukan sejumlah kota besar lainnya.<br><br>\u201cWacana pembangunan landmark ikonik ini nantinya akan menjadi kekhasan PPU yang menyambut masyarakat saat masuk melalui pelabuhan, hal ini juga sebagai penguatan identitas daerah,\u201d ungkap Syahruddin, Selasa (6\/5\/2025).<br><br>Menurutnya, meski rencana tersebut sudah masuk dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah, realisasinya masih terganjal oleh keterbatasan anggaran.<br><br>\u201cIni mimpi besar kita semua Kabupaten PPU untuk terkoneksi langsung dengan Balikpapan melalui pembangunan jembatan penghubung,\u201d ujarnya.<br><br>Syahruddin juga menekankan pentingnya menjaga nilai historis kawasan, dengan menjadikan kampung tua sebagai bagian dari kawasan heritage yang bisa dikembangkan sebagai daya tarik budaya.<br><br>\u201cKalau diwujudkan, jembatan itu bisa menjadi ikon seperti Jembatan Suramadu. Tak hanya mempercepat akses, tetapi juga berpotensi menarik wisatawan mendekat,\u201d tambahnya.<br><br>Ia mengingatkan, pembangunan kawasan strategis seperti ini tak bisa sepenuhnya bergantung pada APBD. Oleh karena itu, keterlibatan pihak swasta menjadi sangat penting untuk mempercepat realisasi rencana tersebut.<br><br>\u201cDaerah memiliki keterbatasan anggaran, swasta harusnya bisa masuk karena melihat potensi di dalamnya. Seharusnya ini menjadi peluang besar bagi kita. Sementara ini kita hanya bisa bersabar dan menunggu proses perwujudan rencana besar ini,\u201d pungkasnya.(ADV)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PPU &#8211; Impian menjadikan kawasan pelabuhan umum di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) sebagai ikon baru yang memadukan nilai estetika dan fungsi wisata, hingga kini belum kunjung terwujud akibat keterbatasan anggaran pembangunan. Wakil Ketua I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD)&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2917,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false,"jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[35,16,10],"tags":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/IMG-20250507-WA0008.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2918"}],"collection":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2918"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2918\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2917"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2918"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2918"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2918"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}