{"id":2915,"date":"2025-05-02T12:31:43","date_gmt":"2025-05-02T12:31:43","guid":{"rendered":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/2025\/05\/02\/dorong-ekspor-perikanan-sujiati-minta-sdm-petani-tambak-ditingkatkan\/"},"modified":"2025-05-02T12:31:43","modified_gmt":"2025-05-02T12:31:43","slug":"dorong-ekspor-perikanan-sujiati-minta-sdm-petani-tambak-ditingkatkan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/2025\/05\/02\/dorong-ekspor-perikanan-sujiati-minta-sdm-petani-tambak-ditingkatkan\/","title":{"rendered":"Dorong Ekspor Perikanan, Sujiati Minta SDM Petani Tambak Ditingkatkan"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"759\" src=\"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/img-20250505-wa00475201413911922415603-1024x759.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2913\" srcset=\"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/img-20250505-wa00475201413911922415603-1024x759.jpg 1024w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/img-20250505-wa00475201413911922415603-300x222.jpg 300w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/img-20250505-wa00475201413911922415603-768x569.jpg 768w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/img-20250505-wa00475201413911922415603-540x400.jpg 540w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/img-20250505-wa00475201413911922415603.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><\/p>\n\n\n\n<p><br>PPU &#8211; Produk perikanan budidaya dari Penajam Paser Utara (PPU) dinilai memiliki potensi besar menembus pasar ekspor. Namun, Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati, menilai potensi ini belum sepenuhnya dimaksimalkan karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM) petani tambak yang masih mengandalkan pola tradisional.<br><br>\u201cSektor pertanian sudah mulai pakai drone, tapi petani tambak kita masih menggunakan cara-cara manual warisan nenek moyang,\u201d kata Sujiati, Jumat (2\/5\/2025).<br><br>Menurutnya, komoditas seperti kepiting dari PPU sudah bisa menjangkau pasar luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. Namun, karena pusat pengelolaan dan distribusi masih berada di Balikpapan, potensi peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) belum bisa dirasakan sepenuhnya oleh PPU.<br><br>\u201cProduk kita sudah sampai ke luar negeri, tapi pusat pengelolaannya masih di Balikpapan. Harapannya nanti ada di PPU agar PAD juga masuk ke sini,\u201d jelasnya.<br><br>Untuk mendukung pembukaan dan pengembangan tambak baru, Sujiati menekankan pentingnya peningkatan kapasitas petani. Ia menyebut pihaknya bersama dinas terkait tengah mendorong model pelatihan langsung di lapangan agar lebih efektif.<br><br>\u201cKami diskusi dengan dinas, supaya pelatihnya yang datang ke lokasi, bukan petani yang dibawa ke luar. Biar pelatihan lebih menyentuh langsung kebutuhan mereka di lapangan,\u201d ujarnya.<br><br>Selain kepiting, Sujiati juga menyoroti potensi komoditas lain seperti kakap, kerapu, udang, dan bandeng yang dinilai cukup menjanjikan untuk pasar lokal maupun ekspor. Namun, ia mengakui komoditas seperti lobster masih sulit dikembangkan karena tingginya tingkat kematian bibit.<br><br>\u201cPetani lebih fokus ke udang vaname, windu, dan brown karena peluang keberhasilannya lebih besar,\u201d tambahnya.<br><br>Sujiati berharap, dengan peningkatan SDM dan dukungan teknologi, sektor tambak di PPU tidak hanya tumbuh secara kuantitas, tapi juga mampu menjadi penopang utama ekonomi daerah.(ADV)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PPU &#8211; Produk perikanan budidaya dari Penajam Paser Utara (PPU) dinilai memiliki potensi besar menembus pasar ekspor. Namun, Wakil Ketua Komisi II DPRD PPU, Sujiati, menilai potensi ini belum sepenuhnya dimaksimalkan karena keterbatasan sumber daya manusia (SDM) petani tambak yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2914,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false,"jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[35,16,10],"tags":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/05\/IMG-20250505-WA0047.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2915"}],"collection":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2915"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2915\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2914"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2915"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2915"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2915"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}