{"id":2876,"date":"2025-04-29T01:30:18","date_gmt":"2025-04-29T01:30:18","guid":{"rendered":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/2025\/04\/29\/wacana-pusat-soal-pembentukan-koperasi-desa-dprd-ppu-nilai-pengelolaan-lokal-belum-optimal\/"},"modified":"2025-04-29T01:30:18","modified_gmt":"2025-04-29T01:30:18","slug":"wacana-pusat-soal-pembentukan-koperasi-desa-dprd-ppu-nilai-pengelolaan-lokal-belum-optimal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/2025\/04\/29\/wacana-pusat-soal-pembentukan-koperasi-desa-dprd-ppu-nilai-pengelolaan-lokal-belum-optimal\/","title":{"rendered":"Wacana Pusat Soal Pembentukan Koperasi Desa, DPRD PPU Nilai Pengelolaan Lokal Belum Optimal"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"576\" src=\"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/img-20250429-wa00025637111666311610696-1024x576.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2874\" srcset=\"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/img-20250429-wa00025637111666311610696-1024x576.jpg 1024w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/img-20250429-wa00025637111666311610696-300x169.jpg 300w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/img-20250429-wa00025637111666311610696-768x432.jpg 768w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/img-20250429-wa00025637111666311610696.jpg 1280w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><br><br>PPU &#8211; Upaya pemerintah pusat membentuk koperasi desa merah putih untuk mendukung pembangunan desa dan pemerataan ekonomi mendapat perhatian dari Ketua Komisi I DPRD Penajam Paser Utara (PPU), Thohiron. Ia menilai, koperasi di daerah tersebut belum berjalan optimal.<br><br>Thohiron mengatakan, meskipun koperasi telah diperkenalkan sejak sebelum kemerdekaan, implementasinya di lapangan masih menghadapi banyak tantangan.<br><br>&#8220;Masalahnya, pemahaman koperasi ini tidak berjalan mulus. Sejak dulu, rata-rata pada akhirnya yang diuntungkan adalah pengurusnya,&#8221; ujar Thohiron, Senin (28\/4\/2025).<br><br>Menurutnya, koperasi yang beroperasi di PPU, selain milik perusahaan, sebagian besar hanya aktif dalam pengelolaan simpan pinjam. Adapun koperasi yang bergerak di sektor penyediaan kebutuhan pokok atau bahan sehari-hari belum berkembang dengan baik.<br><br>&#8220;Itu sepertinya agak berat, apalagi kalau ada harga selisih nantinya dengan milik perusahaan,&#8221; tambahnya.<br><br>Ia menilai, seharusnya koperasi desa bisa lebih mengoptimalkan potensi lokal, seperti memasarkan hasil pertanian atau menyediakan kebutuhan dasar masyarakat.<br><br>&#8220;Bagus kagi kalau koperasi desa itu dari hasil komoditi mereka, bisa saja sebenarnya mereka juga menyediakan obat-obatan, pupuk, atau hasil bumi,&#8221; tutur Thohiron.<br><br>Namun, hingga saat ini, menurutnya, banyak koperasi dihadapkan pada kendala pengelolaan yang lemah.<br><br>&#8220;Semacam ada trauma di tengah masyarakat karena koperasi sebelumnya banyak gagal akibat ketidakmampuan manajemen,&#8221; terangnya.<br><br>Thohiron menambahkan, agar koperasi bisa berjalan efektif, perlu ada sinergi kuat antara pengurus dan anggota, serta kecakapan berwirausaha.<br><br>&#8220;Kalau mau efektif koperasi desa itu, warga desa bisa menjadi anggota, yang kemudian seluruh kebuyuhan warga disuplai oleh koperasi tersebut. Maka pengurus dan anggotanya harus kompak. sama-sama punya pandangan untuk membesarkan koperasinya,&#8221; tutup Thohiron.(ADV)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PPU &#8211; Upaya pemerintah pusat membentuk koperasi desa merah putih untuk mendukung pembangunan desa dan pemerataan ekonomi mendapat perhatian dari Ketua Komisi I DPRD Penajam Paser Utara (PPU), Thohiron. Ia menilai, koperasi di daerah tersebut belum berjalan optimal. Thohiron mengatakan,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2875,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false,"jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[35,16,10],"tags":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/IMG-20250429-WA0002.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2876"}],"collection":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2876"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2876\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2875"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2876"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2876"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2876"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}