{"id":2590,"date":"2025-03-22T10:08:12","date_gmt":"2025-03-22T10:08:12","guid":{"rendered":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/2025\/03\/22\/tani-harapan-incar-pasar-regional-lewat-olahan-buah-naga-unggulan\/"},"modified":"2025-03-22T10:08:12","modified_gmt":"2025-03-22T10:08:12","slug":"tani-harapan-incar-pasar-regional-lewat-olahan-buah-naga-unggulan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/2025\/03\/22\/tani-harapan-incar-pasar-regional-lewat-olahan-buah-naga-unggulan\/","title":{"rendered":"Tani Harapan Incar Pasar Regional Lewat Olahan Buah Naga Unggulan"},"content":{"rendered":"\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"800\" height=\"450\" src=\"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/img-20250323-wa00236420086518947227760.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-2588\" srcset=\"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/img-20250323-wa00236420086518947227760.jpg 800w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/img-20250323-wa00236420086518947227760-300x169.jpg 300w, https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/img-20250323-wa00236420086518947227760-768x432.jpg 768w\" sizes=\"(max-width: 800px) 100vw, 800px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>CAPTION: Desa Tani Harapan, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, tengah bersiap menjadi sentra buah naga.<\/p>\n\n\n\n<p><br><br><br><br>Tenggarong\u2013 Desa Tani Harapan, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, tengah bersiap menjadi sentra buah naga yang tak hanya mengandalkan hasil panen segar, tetapi juga mengembangkan potensi ekonominya melalui produk-produk olahan bernilai tambah. <br><br>Langkah ini menjadi bagian dari strategi desa dalam memperkuat ekonomi lokal berbasis potensi pertanian unggulan.<br><br>Kepala Desa Tani Harapan, Mail, menjelaskan bahwa pengembangan buah naga telah menjadi fokus utama sejak beberapa tahun terakhir. <br><br>Kini, desa mulai bergerak lebih jauh, tak hanya menjual buah dalam bentuk segar, tetapi juga mengolahnya menjadi aneka produk, seperti sirup, makanan ringan, hingga minuman segar.<br><br>\u201cPotensi buah naga di desa kami cukup besar. Tapi kami tidak ingin berhenti di penjualan buah segar saja. Sekarang kami dorong masyarakat, khususnya kelompok UMKM, untuk menciptakan produk olahan yang punya nilai jual lebih tinggi,\u201d kata Mail, Sabtu (22\/3\/2025).<br><br>Dalam proses pengembangan ini, kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) desa menjadi ujung tombaknya. <br><br>Beberapa kelompok warga telah memproduksi sirup buah naga dengan tampilan menarik dan cita rasa yang mulai dikenal di lingkungan sekitar. <br><br>Bahkan, sejumlah pelaku usaha sudah menjajaki distribusi ke toko-toko oleh-oleh lokal di Tenggarong dan Samarinda.<br><br>\u201cKelompok UMKM terus mengembangkan berbagai produk olahan buah naga, dan ini diharapkan dapat membantu meningkatkan pendapatan mereka. Antusiasme masyarakat cukup tinggi,\u201d tutur Mail.<br><br>Produk olahan ini tak hanya menjadi sumber ekonomi tambahan, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan baru bagi ibu rumah tangga, pemuda, hingga petani yang sebelumnya hanya fokus pada budidaya.<br><br>Keberhasilan awal ini juga tidak lepas dari dukungan Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara melalui Dinas UMKM. <br><br>Mail menjelaskan bahwa pelaku UMKM di desanya mendapatkan pelatihan dan pendampingan, mulai dari cara pengolahan yang higienis, pengemasan menarik, hingga strategi pemasaran digital.<br><br>\u201cDinas UMKM membantu kami dalam mengolah buah naga menjadi produk yang lebih berkualitas, termasuk pelatihan dari segi manajemen dan pemasaran. Ini sangat bermanfaat agar produk desa bisa bersaing,\u201d jelasnya.<br><br>Peningkatan kapasitas ini penting agar produk yang dihasilkan tidak hanya menarik secara visual, tapi juga memenuhi standar keamanan pangan dan cita rasa yang konsisten. <br><br>Selain itu, adanya pelatihan juga memperluas wawasan warga soal legalitas usaha, label halal, hingga perizinan produk industri rumah tangga (P-IRT).<br><br>Mail optimistis bahwa langkah ini akan menjadikan Desa Tani Harapan sebagai sentra pengolahan buah naga di Kabupaten Kutai Kartanegara. <br><br>Dengan luas lahan yang tersedia dan komitmen warga yang tinggi, desa ini punya potensi besar untuk menjadi contoh bagi desa lain dalam memaksimalkan hasil perkebunan lokal.<br><br>\u201cKami ingin Desa Tani Harapan dikenal sebagai desa dengan produk olahan buah naga yang berkualitas. Target kami bukan hanya di pasar lokal, tapi juga bisa menembus pasar regional bahkan nasional,\u201d harapnya.<br><br>Untuk mewujudkan hal tersebut, Mail mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kualitas panen dan terus mengembangkan inovasi produk. <br><br>Ia percaya bahwa kerja sama antara pemerintah desa, warga, dan dukungan dari pihak luar adalah kunci kesuksesan ekonomi desa.<br><br>Langkah Desa Tani Harapan ini mencerminkan paradigma baru pembangunan desa: dari yang bergantung pada bantuan, menjadi desa yang mandiri lewat pemanfaatan sumber daya sendiri. <br><br>Potensi lokal yang selama ini hanya dilihat sebagai komoditas konsumsi, kini diolah secara strategis untuk meningkatkan nilai ekonomi, membuka lapangan kerja, dan memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat.<br><br>\u201cKalau masyarakat kompak dan potensi desa dimanfaatkan optimal, bukan tidak mungkin kita jadi contoh desa mandiri yang sukses dari hasil buah naga,\u201d pungkas Mail.<br><br>Dengan pendekatan yang menyatukan pertanian, UMKM, dan pembinaan berkelanjutan, Desa Tani Harapan perlahan menjelma menjadi desa yang bukan hanya produktif, tetapi juga inovatif dan berdaya saing di tengah era modernisasi ekonomi desa. (*)<br><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>CAPTION: Desa Tani Harapan, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, tengah bersiap menjadi sentra buah naga. Tenggarong\u2013 Desa Tani Harapan, Kecamatan Loa Janan, Kabupaten Kutai Kartanegara, tengah bersiap menjadi sentra buah naga yang tak hanya mengandalkan hasil panen segar, tetapi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2589,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":"","jetpack_publicize_message":"","jetpack_is_tweetstorm":false,"jetpack_publicize_feature_enabled":true,"jetpack_social_post_already_shared":true,"jetpack_social_options":{"image_generator_settings":{"template":"highway","enabled":false}}},"categories":[39,6],"tags":[],"jetpack_publicize_connections":[],"jetpack_featured_media_url":"https:\/\/rubriknusantara.com\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/IMG-20250323-WA0023.jpg","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2590"}],"collection":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2590"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2590\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2589"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2590"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2590"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rubriknusantara.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2590"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}